Oleh : Dedi Panjaitan
Redaktur (Editor)
PembaharuanTodays.com
PALUTA - Jurnalisme hari ini hidup di tengah kebisingan informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap detik, berita lahir, berubah, bahkan mati sebelum sempat diverifikasi secara utuh. Di ruang digital yang serba cepat ini, jurnalisme tidak hanya ditantang untuk hadir lebih dulu, tetapi juga diuji: masihkah ia setia pada kebenaran, atau justru terjebak dalam perlombaan klik dan sensasi?
Fenomena “siapa cepat dia dapat” telah menggeser orientasi sebagian media. Judul-judul provokatif kerap lebih diutamakan dibanding akurasi isi. Informasi setengah matang disajikan demi mengejar trafik, sementara klarifikasi sering datang terlambat dan tenggelam. Praktik ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman serius terhadap kepercayaan publik. Ketika media ikut larut dalam arus spekulasi, maka batas antara jurnalisme dan rumor menjadi semakin kabur.
Di tengah situasi tersebut, jurnalis seharusnya tampil sebagai penjernih, bukan pengeruh. Tugas utama jurnalisme bukan mempercepat kepanikan, melainkan memperlambat kesimpulan. Verifikasi, keberimbangan, dan konteks adalah fondasi yang tidak boleh runtuh hanya karena tuntutan algoritma. Tanpa itu, jurnalisme kehilangan identitasnya dan berubah menjadi sekadar industri konten.
Tekanan ekonomi memang nyata. Media harus bertahan di tengah persaingan yang keras, iklan yang menurun, dan selera pasar yang cepat berubah. Namun, menjadikan kepentingan bisnis sebagai pembenaran untuk mengabaikan etika adalah kekeliruan besar. Jurnalisme yang mengorbankan nilai demi popularitas sesaat sedang menggali kubur kepercayaannya sendiri. Sekali publik ragu, sangat sulit bagi media untuk merebut kembali legitimasi moralnya.
Lebih jauh, jurnalisme juga menghadapi godaan keberpihakan yang sempit. Kepentingan politik, kekuasaan, dan kelompok tertentu kerap menyusup ke ruang redaksi. Jika media tidak lagi berpihak pada kepentingan publik, melainkan pada agenda tertentu, maka fungsi kontrol sosial jurnalisme menjadi lumpuh. Media yang takut pada kebenaran atau memilih diam demi kenyamanan telah berhenti menjalankan perannya sebagai penjaga demokrasi.
Di sisi lain, masyarakat juga tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab. Rendahnya literasi media membuat informasi palsu mudah diterima dan disebarkan. Dalam kondisi ini, jurnalisme yang berkualitas seharusnya tampil lebih berani, lebih dalam, dan lebih jujur, bukan justru ikut menurunkan standar demi menyesuaikan diri dengan selera pasar.
Jurnalisme sejatinya adalah soal keberanian: berani melawan arus, berani menunda demi akurasi, dan berani berkata benar meski tidak populer. Di era yang bising ini, publik tidak membutuhkan lebih banyak berita, tetapi membutuhkan berita yang benar. Jika jurnalisme gagal menjawab kebutuhan itu, maka ia bukan sedang kalah oleh zaman, melainkan menyerah pada zaman.
