Oleh : Samsudin Harahap (Bung Esa)

PALUTA || Ada sebuah fenomena pendidikan yang menurut saya layak menjadi bahan renungan bersama di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta). Ketika sebagian orang tua dan anak-anak semakin menjadikan pesantren sebagai pilihan untuk melanjutkan pendidikan, muncul sebuah pertanyaan sederhana tetapi penting: apa yang membuat mereka lebih tertarik memilih pesantren dibandingkan Sekolah Negeri?

Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan sekolah negeri, apalagi mempertentangkan pesantren dengan Sekolah Negeri. Justru sebaliknya, ini adalah kritik yang diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama.

Sebab, ketika masyarakat mulai mengubah preferensi dalam menentukan sekolah anak, dunia pendidikan seharusnya tidak hanya melihat angka penerimaan siswa baru. Lebih dari itu, perlu dilihat apa yang menjadi pertimbangan orang tua dan siswa dalam menentukan pilihan.
Sebagian orang tua saat ini tidak hanya mencari pendidikan akademik. Mereka juga menginginkan pendidikan agama, pembentukan karakter, kedisiplinan, lingkungan pergaulan yang baik serta pembinaan anak yang lebih intensif.
Dan pada titik inilah pesantren memiliki daya tarik tersendiri. Pesantren dianggap mampu menghadirkan pendidikan umum sekaligus pembinaan keagamaan dan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang tua, pola pendidikan seperti ini memberikan rasa aman sekaligus harapan agar anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan kepribadian yang baik.
Lalu, Bagaimana dengan Sekolah Negeri? Ini yang menurut saya perlu menjadi bahan evaluasi.
Sekolah Negeri di Paluta tentu memiliki banyak potensi. Ada guru-guru yang kompeten, siswa-siswa berprestasi, fasilitas yang terus dikembangkan, serta berbagai program pendidikan yang sudah berjalan.
Namun, potensi tersebut harus terus diikuti dengan inovasi. Jangan sampai sekolah negeri merasa cukup hanya karena statusnya.
Di tengah perubahan zaman dan semakin kritisnya orang tua dalam memilih pendidikan anak, sekolah harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Sekolah harus bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah proses pembelajaran sudah menarik bagi siswa?
Apakah pembinaan karakter sudah berjalan secara konsisten?
Apakah kegiatan keagamaan mendapatkan ruang yang memadai?
Apakah bakat dan minat siswa benar-benar dikembangkan?
Apakah sekolah mampu menciptakan lingkungan yang membuat siswa merasa nyaman, aman dan bangga menjadi bagian dari sekolah tersebut?
Dan yang tidak kalah penting, apakah komunikasi antara sekolah dengan orang tua sudah berjalan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari pertanyaan sederhana itulah evaluasi pendidikan dapat dimulai.
Jangan Tunggu Sekolah Negeri Sepi Peminat. Menurut saya, pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan di Paluta tidak perlu menunggu sampai persoalan ini menjadi lebih besar.
Jika benar terjadi kecenderungan masyarakat lebih memilih pesantren, maka fenomena tersebut harus dibaca sebagai sinyal untuk melakukan evaluasi, bukan sebagai ancaman. Sekolah negeri harus mampu berbenah sebelum orang tua benar-benar kehilangan ketertarikan.
Peningkatan kualitas guru harus berjalan. Metode pembelajaran harus semakin kreatif. Pengembangan bakat olahraga, seni, teknologi dan organisasi siswa harus diperkuat. Pendidikan karakter dan pembinaan keagamaan juga perlu mendapatkan perhatian.
Sebab, generasi muda hari ini tidak cukup hanya dibekali kemampuan menghafal pelajaran.
Mereka membutuhkan karakter, kedisiplinan, keterampilan, kemampuan berkomunikasi, penguasaan teknologi, kreativitas serta nilai moral dan agama sebagai fondasi menghadapi masa depan.
Jangan Pertentangkan Pesantren dan Sekolah Negeri. Pesantren tidak boleh dilihat sebagai pesaing Sekolah Negeri. Begitu pula Sekolah Negeri tidak perlu merasa harus meniru seluruh sistem pesantren.
Keduanya memiliki kekuatan dan karakter masing-masing. Yang harus dilakukan adalah belajar dari kebutuhan masyarakat.
Jika pesantren mampu menarik minat masyarakat melalui kedisiplinan, pembinaan karakter dan pendidikan agama, maka sekolah negeri dapat mengambil pelajaran dari aspek-aspek positif tersebut dan mengembangkannya sesuai dengan sistem pendidikan yang berlaku.
Begitu pula pesantren dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan umum agar lulusannya memiliki kemampuan yang seimbang dalam menghadapi tuntutan zaman.
Pada akhirnya, yang kita harapkan bukan kemenangan salah satu lembaga pendidikan.
Yang kita harapkan adalah kemenangan anak-anak Paluta dalam mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Pemerintah Perlu Membuka Ruang Evaluasi. Pemerintah juga perlu melihat persoalan ini secara lebih objektif. Data penerimaan siswa baru, jumlah pendaftar, jumlah siswa yang memilih Sekolah Negeri maupun pesantren, alasan perpindahan pilihan pendidikan, hingga persepsi orang tua terhadap kualitas sekolah perlu dikaji.
Jangan sampai kebijakan pendidikan dibuat hanya berdasarkan asumsi. Kalau memang terjadi perubahan minat masyarakat, maka harus ada data yang berbicara.
Dari data tersebut kemudian dapat dirumuskan kebijakan yang tepat untuk memperkuat kualitas pendidikan di Paluta. Karena pendidikan bukan hanya urusan sekolah dan guru. Pendidikan adalah investasi jangka panjang daerah.
Kritik Bukan untuk Menjatuhkan. Tulisan ini bukanlah kritik untuk menjatuhkan Sekolah Negeri. Justru sebaliknya, Kritik ini lahir dari harapan agar sekolah negeri di Paluta semakin kuat, semakin berkualitas dan semakin dipercaya masyarakat.
Kita tentu ingin melihat Sekolah Negeri di Paluta menjadi pilihan yang membanggakan bagi anak-anak dan orang tua. Kita ingin melihat sekolah negeri mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, berprestasi, beragama dan siap menghadapi dunia yang terus berubah.
Karena itu, jika hari ini ada orang tua yang mulai bertanya, “Mengapa anak saya lebih baik sekolah di pesantren?”, maka jangan buru-buru menyalahkan pilihan tersebut.
Mari kita dengarkan alasan mereka. Sebab terkadang, suara masyarakat yang memilih jalan berbeda justru sedang memberikan pesan yang sangat penting kepada kita. Ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Dan bagi saya, kritik yang paling berarti bukanlah kritik yang mencari siapa yang salah, tetapi kritik yang mendorong kita semua untuk menjadi lebih baik. (DsP)
